divider

News

separator

Sarihusada Ajak Masyarakat Untuk Tanggap Alergi Dengan Pola 3 K: Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan


Surabaya, 8 November 2016 – Sarihusada berkolaborasi dengan Badan Kerjasama Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Pencegahan Fakultas Kedokteran Indonesia (BKSIKMKPFKI), serta Unit Kerja Koordinasi (UKK) Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan rangkaian kegiatan edukasi “Tanggap Alergi”, yang bertujuan untuk terus meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai alergi serta menyediakan advokasi bagi masyarakat dalam menangani alergi. Kegiatan ini digelar selama satu minggu, dari tanggal 7 sampai 11 November 2016 di 10 klinik di Surabaya.

Perubahan pola kehidupan masyarakat modern membuat angka kejadian penyakit alergi semakin meningkat dari tahun ke tahun, terutama kasus alergi pada anak. Data World Allergy Organization (WAO) dalam The WAO White Book on Allergy: Update 2013 menunjukkan bahwa angka prevalensi alergi mencapai 10-40 persen dari total populasi dunia.

Risiko alergi yang meningkat ternyata belum diikuti dengan pemahaman serta penanganan alergi yang tepat dari orangtua. Menurut DR. dr. Sulistiawati, M.Kes., Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat – Kedokteran Pencegahan, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, “Selama ini masih banyak orang tua yang belum memahami cara mengenali gejala alergi yang tepat tetapi mencoba mengambil solusi sendiri. Untuk itulah dibutuhkan penyuluhan mengenai alergi yang berkelanjutan dan komprehensif, yang mudah dipahami sehingga orang tua dapat mengenali serta menangani risiko alergi dengan tepat agar anak tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan kualitas hidup anak tetap terjaga.”

Terkait dengan edukasi yang berkelanjutan dan komprehensif, Dokter Keluarga memiliki peranan yang sangat penting karena mereka berada di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat satu, Sehingga banyak masyarakat yang dapat terpapar tentang penyuluhan dan penanganan yang tepat oleh Dokter Keluarga.

Prof. DR. dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), M.Kes., Konsultan Alergi Imunologi Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran menjelaskan, “Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. Ini bisa berupa substansi pemicu alergi atau alergen yang masuk atau bersentuhan dengan tubuh. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada anak, yaitu: riwayat alergi pada keluarga, kelahiran caesar, makanan tertentu atau sesuatu yang terhirup seperti polusi yang termasuk polusi udara dan asap rokok.”

Dari berbagai faktor pemicu, makanan merupakan salah satu masalah pemicu alergi yang paling sering dialami oleh anak. Sekitar 20% anak pada satu tahun pertama mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan. Secara global, 240 – 550 juta orang berpotensi menderita alergi makanan. Alergi makanan secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup penderita, terutama pada anak-anak. Dampak alergi tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup anak seperti terbatasnya aktivitas belajar, bermain, sulit konsentrasi hingga sulit tidur.

Allergy & Asthma Foundation of America menyatakan bahwa alergi susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak-anak. Studi di beberapa negara di seluruh dunia menunjukkan prevalensi alergi susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupan sekitar 2% sampai 5%. Indikator paling tepat untuk deteksi dini alergi adalah melalui riwayat keluarga, karena alergi bersifat genetik. Pada kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi dan memiliki manifestasi yang sama, anaknya akan berisiko 60-80% terkena alergi, bahkan pada orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi, anak tetap memiliki risiko alergi sebesar 5-15 persen. Pemberian nutrisi yang optimal pada awal kehidupan, dapat mengurangi risiko alergi karena anak dengan alergi dapat berkembang secara optimal dengan didukung nutrisi yang tepat. ASI merupakan yang terbaik bagi bayi dan anak yang mengalami alergi.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Prof. DR. dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), M.Kes,” Apabila anak terdiagnosis alergi protein susu sapi, ASI harus tetap diberikan, namun Ibu harus mengeliminasi susu sapi dan produk turunannya dalam diet sehari-hari, contohnya seperti sup krim, pudding dengan saus susu, pancake, dan lain sebagainya. Dan segera konsultasikan dengan dokter anak mengenai asupan nutrisi serta penanganan untuk anak, selama masa treatment asupan nutrisi anak harus menghindari protein susu sapi dan diberikan protein terhidrolisa ekstensif, protein asam amino bebas atau isolate protein soya sebagai alternatif nutrisi.”

Ahmad Hamdani, Healthcare Nutrition Director Nutricia Sarihusada, mengatakan, “Alergi tidak saja berdampak pada tingkat kesehatan di kemudian hari, tapi juga dapat berdampak pada produktivitas penderita alergi. Sarihusada sebagai perusahaan yang memiliki komitmen untuk mendukung serta mendampingi orang tua dalam masa tumbuh kembang anak, termasuk anak dengan alergi ataupun anak yang berisiko alergi, berkomitmen dalam mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk tanggap alergi dengan program 3K, yang merupakan salah satu langkah praktis dalam mengatasi alergi pada anak yaitu Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan. Edukasi ini dilakukan baik melalui penyuluhan langsung ataupun informasi yang didapatkan di website alergianak.com.

Lebih lanjut Ahmad Hamdani mengatakan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati alergi, kami mendorong setiap orangtua untuk mengingat 3K (Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan) sebagai pengetahuan untuk melakukan diagnosa alergi sejak dini serta memberikan nutrisi yang tepat di awal kehidupan.”

Selain di Surabaya, kegiatan roadshow edukasi “Tanggap Alergi” ini juga akan digelar di dua kota besar lainnya, yaitu Yogyakarta pada 17-21 Oktober 2016 silam dan di Medan pada 14-18 November 2016 mendatang. Kegiatan roadshow ini terbuka cuma-cuma bagi pengunjung klinik dan anggota masyarakat lainnya yang ingin memperoleh informasi seputar alergi maupun melakukan konsultasi. “Pada kegiatan roadshow edukasi dan penyuluhan ini, masyarakat juga diperkenalkan kembali kepada website alergianak.com yang diharapkan dapat menjadi alat edukasi yang sederhana, mudah diakses, dan ‘bersahabat’ bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai informasi mengenai alergi dan cara penanganan yang tepat.” tutup Ahmad Hamdani.

Tentang Sarihusada

PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) adalah perusahaan yang memproduksi berbagai produk nutrisi untuk ibu hamil & menyusui dan anak dengan rasa enak, terjangkau serta berstandar internasional seperti SGM Eksplor, SGM Bunda, SGM Nutriday, SGM Soya, dan Lactamil. Sarihusada merupakan bagian dari Danone Nutricia Early Life Nutrition. Danone adalah salah satu perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia yang memiliki misi memberikan kesehatan kepada sebanyak mungkin orang dan beroperasi di 160 negara dengan jumlah karyawan lebih dari 100.000 orang di seluruh dunia.

Di Indonesia, bisnis Danone terdiri atas tiga kategori utama, yaitu Air Minum dalam Kemasan dan Minuman Non Karbonasi, Nutrisi untuk Awal Kehidupan (Early Life Nutrition) dan Nutrisi Medis. Di Indonesia, Danone memiliki 23 pabrik dengan jumlah karyawan lebih dari 15.000 orang.

separator

separator