divider

News

separator

Nutrisi Tepat di Awal Kehidupan Untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi


Medan, 14 Maret 2016 – Anak-anak dengan faktor risiko alergi protein susu sapi memerlukan upaya penanganan sejak dini untuk optimalisasi tumbuh-kembang anak dan pencegahan dampak jangka panjang. Upaya penanganan tersebut adalah mengukur faktor risiko yang dimiliki anak, mengenali gejala-gejala alergi, serta memberikan nutrisi awal kehidupan yang tepat. Untuk anak yang telah terkena alergi dibutuhkan penanganan alergi protein susu sapi yang tepat berupa pemberian nutrisi dengan indikasi yang tepat yang dapat menekan sensitisasi (tingkat alergi), aman, dan dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Demikian pokok kesimpulan dari diskusi Nutritalk yang diselenggarakan hari ini olehSarihusada.
Nutritalk kali ini mengambil tema ‘Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi’, yang membahas mengenai pentingnya menyadari faktor risiko alergi pada anak, mengenali gejala-gejala alergi, memahami cara penanganan alergi, dan menyadari peran penting nutrisi yang tepat di awal kehidupan bagi optimalisasi tumbuh kembang anak dengan alergi protein susu sapi. Diskusi menghadirkan pembicara ahli DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) – Konsultan Alergi Imunologi Anak dari RSCM Jakarta, dan Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH – Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM Jakarta.
DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) menjelaskan,“Anak-anak dengan kedua orang tua memiliki riwayat alergi, memiliki risiko alergi sebesar 40%-60%. Risiko ini lebih besar lagi pada anak-anak dengan kedua orang tua yang memiliki riwayat alergi dan manifestasi sama, yaitu sebesar 60%-80%. Untuk anak-anak dengan risiko tinggi alergi karena riwayat orang tua, diperlukan pengawasan yang lebih intens untuk memastikan tumbuh-kembang anak yang optimal.”
Orang tua dengan riwayat alergi dianjurkan untuk mengukur risiko alergi yang dimiliki anak. Anak dengan salah satu orang tua memiliki riwayat alergi berisiko mengalami alergi sebesar 20%-30%. Jika saudara memiliki riwayat alergi, anak berisiko mengalami alergi sebesar 25%-30%. Bahkan anak dengan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi pun,berisiko mengalami alergi sebesar 5%-15%.
“Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh, sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi,” tambah DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K).

Jika risiko alergi sudah disadari, orang tua perlu mengenali gejala-gejala klinis alergi. Hal ini penting, karena alergi protein susu sapi tidak memiliki gejala yang spesifik dan sulit dideteksi. Dengan mengenali gejala alergi, pemberian nutrisi yang tepat dapat dilakukan sehingga tumbuh kembang anak tidak terhambat.
Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH, memaparkan, “Nutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berperan dalam tumbuh kembang anak, selain genetik dan lingkungan. Nutrisi yang tepat, lengkap, serta menjadi dasar bagi tumbuh kembang yang optimal seorang anak, adalah ASI, makanan pendamping ASI (MPASI ), dan makanan seimbang.”
Namun anak-anak dengan risiko alergi protein susu sapi akan memberikan reaksi abnormal terhadap MPASI dan makanan seimbang yang mengandung protein susu sapi karena interaksi antara satu atau lebih protein susu dengan satu atau lebih mekanisme kekebalan tubuh.
“Alergi protein susu sapi merupakan salah satu bentuk alergi makanan. Anak dengan alergi makanan lebih berisiko mengalami gangguan pertumbuhan yang berhubungan dengan gangguan asupan makanan, contohnya sering kali mereka dijauhkan dari asupan makanan bergizi tertentu seperti telur dan susu. Jika dilakukan intervensi nutrisi yang tepat dan dipantau dengan baik, anak dengan alergi dapat tetap tumbuh dan kembang secara optimal,” tambah Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH
Intervensi nutrisi yang tepat bertujuan untuk mencegah paparan alergen dan memastikan optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terganggu, serta mengidentifikasi dan menangani masalah gangguan gizi. Pada awal kehidupan, intervensi nutrisi bagi anak-anak dengan faktor risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi adalah pemberian MPASI berupa sumber nutrisi yang lebih mudah dicerna oleh tubuh.
“Protein terhidrolisis parsial adalah sebuah hasil dari teknologi yang lebih mudah ditoleransi oleh tubuh dan dicerna. Dengan teknologi tersebut, panjang rantai protein dapat dipotong-potong menjadi lebih pendek dan ukuran massa molekulnya dapat diperkecil. Semakin pendek rantai dan semakin kecil massa molekulnya, protein akan lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak,” papar DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K).
Teknologi ini memungkinkan anak dengan faktor risiko yang tidak toleran terhadap protein susu sapi, dapat tetap memperoleh nutrisi dengan asupan protein yang dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan yang optimal.
“Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisis parsial merupakan salah satu langkah praktis dalam salah satu upaya intervensi nutrisi bagi anak dengan faktor risiko tidak toleran protein susu sapi karena proteinnya lebih mudah dicerna dan diterima oleh anak. Adapun langkah lainnya adalah berupa pencegahan untuk anak yang telah terpajan alergen dan pencegahan untuk anak yang sudah terkena dampak lainnya dari alergi, dengan tujuan agar reaksi alergi tidak berulang, bertambah berat, maupun tidak terbawa sampai dewasa,” kata DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K).
DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K) menambahkan, “Salah satu alternatif pemberian nutrisi yang efektif bagi anak-anak yang sudah terpapar alergi adalah formula dengan isolat protein kedelai. Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pola pertumbuhan, kesehatan tulang dan fungsi metabolisme, fungsi reproduksi, endokrin, imunitas, dan sistem saraf dari anak-anak pengkonsumsi formula dengan isolat protein kedelai tidak berbeda secara signifikan dengan anak-anak yang mengkonsumsi susu sapi.”
“Tidak saja menjadi opsi yang terjangkau, formula dengan isolat protein kedelai dapat djadikan pilihan yang aman bagi anak dengan alergi protein susu sapi, karena dapat ditoleransi dengan baik. Selain itu, di Indonesia formula kedelai merupakan asupan yang disukai karena rasanya yang enak,” ujar DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K).
Pada Nutritalk kali ini juga diperkenalkan Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan oleh Ikata Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Arif Mujahiddin, Head of Corporate Affairs Sarihusada, menerangkan, “Kartu yang memuat nilai risiko keluarga pada ayah, ibu, dan saudara kandung ini dapat membantu orang tua untuk menghitung risiko alergi pada anak, sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin dan sekomperehensif mungkin. Kami membantu memperkenalkan tool dan menyelenggarakan diskusi nutrisi ini sebagai bagian dari komitmen kami memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai alergi dan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan.”

separator

separator