divider

News

separator

Jelajah Gizi 2015 Sarihusada: Menggali Potensi Gizi Makanan Lokal Bali


JAKARTA, 30 Oktober 2015 – Sarihusada kembali mengajak masyarakat untuk mengenal makanan lokal dan gizi yang terkandung di dalamnya melalui program Jelajah Gizi.

Salah satu daerah di Indonesia yang terkenal memiliki makanan khas yang enak rasanya dan mengandung ragam gizi adalah Bali.
Program Jelajah Gizi merupakan upaya memperkenalkan potensi makanan daerah dan zat gizi di dalamnya. Program Jelajah Gizi dilakukan Sarihusada melalui kunjungan di berbagai daerah dengan mengajak wartawan dan blogger serta pendampingan oleh pakar gizi.
“Tahun ini kami memilih Provinsi Bali sebagai destinasi kunjungan. Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang menjunjung tinggi kearifan lokal, yang tercermin dari kesenian dan budayanya yang kaya tradisi, unik, dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Kearifan lokal tersebut terlihat juga dari masakan Bali yang sangat khas, yang lahir dari tradisi turun temurun dan pemanfaatan potensi alam di Bali,” kata Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada.
“Jelajah Gizi merupakan salah satu inisiatif Sarihusada dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang melalui sudut pandang bagaimana masyarakat sebuah daerah memenuhi kebutuhan gizi mereka baik dari bahan-bahan pangan yang digunakan maupun cara mengolahnya. Setelah memilih Gunung Kidul dan Kepulauan Seribu sebagai destinasi Jelajah Gizi pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kami memilih Bali karena banyak masakan Bali yang kaya gizi yang belum diketahui masyarakat,” Arif menjelaskan.
Masakan Bali dikenal sebagai salah satu masakan paling kompleks di dunia karena menggunakan variasi yang luar biasa dari bumbu dan rempah-rempah dicampur dengan sayuran mentah, daging, dan ikan. Penggunaan variasi bahan dasar ini didasarkan pada prinsip keseimbangan dan tradisi menggunakan makanan sebagai salah satu sarana dalam melaksanakan upacara adat maupun keagamaan di Bali atau sesajen.
Lawar adalah contoh salah satu masakan khas Bali yang memadukan penggunaan bahan dasar aneka sayuran, daging cincang, kelapa, dan berbagai bumbu. Aneka sayuran yang digunakan adalah buah nangka muda, buah pepaya muda, berbagai jenis daun seperti daun belimbing, dan daun jarak, kacang-kacangan seperti kacang panjang, kacang merah dan lain-lainnya, yang dicampur dengan daging cincang yang bisa berasal dari sapi, ayam, atau itik. Sedangkan bumbu yang digunakan umumnya terdiri dari lengkuas, kunyit, jahe, kencur, bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, merica, kelapa, cabe rawit, terasi, daun ginten dan sereh.

Prof. Ahmad Sulaeman, Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan, “Bali merupakan daerah yang memiliki banyak makanan, minuman, dan jajanan unggulan. Selain unik, makanan, minuman, dan jajanan khas Bali tersebut juga memiliki potensi gizi yang lengkap. Makanan unggulan seperti Ayam Betutu, Bebek Goreng Crispy, dan Sate Lilit memiliki kandungan protein. Lawar dan Serombotan yang menggunakan aneka sayuran kaya akan serat, vitamin, dan mineral. Beberapa makanan khas Bali juga menyediakan kandungan lemak yang sehat karena dalam proses memasaknya menggunakan kelapa dalam bentuk santan maupun kelapa parut. Selain itu bumbu dan rempah-rempah yang digunakan untuk meningkatkan cita rasa dan aroma masakan khas Bali juga mengandung anti oksidan dan anti bakteri.”
Sate Lilit, yang dinobatkan sebagai salah satu ikon kuliner tradisional Indonesia oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, adalah makanan kaya protein yang berasal dari ikan (tenggiri, kakap, atau tuna) atau ayam. Sate ini menggunakan banyak campuran bumbu dan rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, lengkuas, jahe, pala, ketumbar, dan daun jeruk, yang diperkaya dengan kelapa parut yang dicampurkan pada adonan untuk meningkatkan cita rasa dan aroma. Sate lilit biasanya disajikan dengan pelengkap sambal matah khas Bali, yaitu sambal berbahan dasar bawang merah mentah. Keunikan Sate Lilit adalah tusuknya yang menggunakan batang sereh yang bisa dimakan.
Seperti makanan lokal Bali yang menggunakan bahan pangan lokal yang tumbuh dan ada di Bali, Bali juga memiliki minuman tradisional yang khas yang diproses dari bahan-bahan alami yang tumbuh dan ada di Bali. Misalnya Loloh (jamu dalam Bahasa Bali) yang dibuat dari daun cem-cem (semacam kedondong) yang merupakan tanaman herbal yang banyak tumbuh di Bali, khususnya di Kabupaten Bangli, atau Es Daluman yang semacam cincau hijau khas Bali.
“Loloh dan Daluman adalah minuman tradisional Bali yang tidak saja menyegarkan, tapi juga memiliki fungsi menyehatkan tubuh dan melancarkan saluran pencernaan. Loloh juga dapat menurunkan tekanan darah dan baik untuk ibu menyusui. Sedangkan daluman atau cincau dapat menurunkan panas dalam,” papar Prof. Ahmad.
Minuman tradisional khas Bali lainnya adalah Kopi Bali yang sudah mendunia. Kopi Bali merupakan produk kopi olahan rumah yang masih diproses secara tradisional dan proses penyangraian(menggoreng tanpa minyak) yangmenggunakan kayu bakar sehingga menciptakan aroma harum begitu khas dan istimewa. Minuman ini paling banyak dikonsumsi oleh penduduk Bali karena paling mudah untuk didapatkan. Bali juga terkenal dengan Brem, minuman khas Bali yang terbuat dari ketan hitam atau merah dan ketan putih yang difermentasi. Minuman ini awalnya hanya bagian dari ritual adat dan keagamaan, namun kini banyak disajikan menjadi welcome drinkbagi para tamu dalam berbagai acara, dan juga dibawa sebagai oleh-oleh dari Bali. Sebagai minuman beralkohol, jika diminum secukupnya, Brem dapat bermanfaat mencegah stroke dan penyakit jantung.
Selain makanan dan minuman, Bali juga memiliki jajanan tradisional unggulan yaitu Jaja (kue basah), Rujak, dan Bubuh atau bubur. Jaja Bali adalah berbagai jenis kue basah yang antara lain terbuat dari tepung beras, beras hitam dengan kacang hijau, tepung tapioka, menggunakan gula merah serta gula aren, kelapa parut, pandan, dan daun suji. Sedangkan Rujak Bali adalah makanan berbahan dasar buah dan menggunakan saus atau bumbu yang umumnya dibuat dari gula merah atau gula aren, asam, garam, dan cabai. Bubur Bali dibuat dari beras, tapi berbeda dengan bubur daerah lain di Indonesia, bubur ini disantap dengan urap sayuran dan gecok yang terdiri dari suwiran daging ayam dengan kuah betutu yang rasanya pedas menggigit. Jaja dan Bubuh Bali seringkali disantap sebagai snack atau sarapan.
“Jaja dan Bubuh Bali dapat memenuhi kebutuhan akan kabrohidrat. Sedangkan aneka buah yang digunakan di dalam Rujak Bali dapat melengkapi kebutuhan akan gizi seimbang, setelah gizi-gizi lainnya dipenuhi,” tambah Prof. Ahmad. “’Back to local’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kemampuan kuliner Bali dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakatnya melalui makanan lokal yang khas dan unik yang dibuat menggunakan bahan-bahan pangan lokal yang tersedia di Bali.”
Jika dilihat dari prevalensi gizi balita dan risiko KEK wanita hamil, Bali termasuk salah satu provinsi dengan status gizi yang baik. Riskesdas 2013 menyajikan Bali sebagai provinsi dengan prevalensi terendah gizi buruk-kurang pada balita, yaitu sebesar 11,4%, lebih rendah dari prevalensi nasional sebesar 19,6%. Prevalensi risiko KEK wanita hamil umur 15-49 tahun di Bali juga merupakan yang terendah, yaitu sebesar 10,1%, lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi nasional sebesar 24,2%.

separator

separator