Index

divider

News

separator

International Seminar on Bank Restructuring and Resolution “20 Years of Asian Financial Crisis : Strengthening Infrastructures For Financial Crisis Resolution”


Jakarta, 28 Februari 2018. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyelenggarakan seminar internasional terkait Resolusi dan Restrukturisasi Perbankan. Seminar ini merupakan rangkaian dari program Voyage to Indonesia – di mana puncaknya adalah Annual Meeting International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, yang akan diselenggarakan di Bali pada 8 Oktober2018 mendatang.

Program ini juga merupakan salah satu usaha LPS untuk memperkuat kapasitas lembaga dalam melakukan resolusi dan restrukturisasi perbankan. Ini tak hanya berlaku untuk internal LPS, namun juga untuk para pemangku kepentingan di tingkat nasional dan internasional.

Hadir dalam seminar internasional ini, narasumber dari Lembaga penjamin simpanan (deposit insurance corporation) dari negara-negara lain yang telah memiliki pengalaman dalam penanganan krisis keuangan, serta narasumber dari dalam negeri yang pernah memiliki pengalaman serupa.

Berkaca pada krisis keuangan Asia di tahun 1997 dan krisis keuangan global di tahun 2008, banyak negara telah merubah struktur kerangka regulasi keuangan, protokol manajemen krisis dan infrastruktur perekonomian untuk menuju sistem perekonomian yang lebih fleksibel dan adaptatif.

Salah satu yang paling menonjol adalah meningkatnya jumlah negara yang menerapkan sistem penjaminan simpanan. Di tahun 1974 jumlah negara yang menerapkan sistem ini masih berjumlah 12 negara, namun saat ini sudah 139 negara mengadopsi system ini (IADI, September 2017).

“Peran penjamin simpanan juga terus berevolusi, dari awal mulanya hanya sebagai pay box, sekarang telahmenjadi risk minimizer dengan otoritas yang lebih luas di bidang resolusi perbankan. Pada hari ini, seminar lebih berfokus pada tema resolusi dan restrukturisasi perbankan, bagaimana memperkuat infrastruktur perekonomian agar lebih fleksibel dan adaptatif dalam menghadapi krisis,” kata Halim Alamsyah, Ketua Dewan Komisioner LPS, ketika membuka seminar, di Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Andrew Sheng, peneliti dari Asia Global Institute, The University of Hong Kong, yang tampil sebagai narasumber pertama mengatakan bahwa krisis adalah suatu kejadian, namun restrukturisasi dan resolusi adalah suatu proses.

Terdapat empat proses yang harus dilakukan dalam menghadapi krisis, antara lain diagnosa krisis, antisipasi dampak krisis, alokasi kehilangan dan kemampuan untuk beroperasi kembali.

Halim menambahkan bahwa dibutuhkan juga usaha untuk  mengantisipasi cross border issue. Jika perbankan Indonesia berekspansi keluar negeri, maka harus dipersiapkan kapasitas untuk mengelola cross border issue.

Pasalnya, jika terjadi krisis, maka dampak sistemik yang terjadi juga akan lebih luas. Beberapa usaha untuk mengantisipasi hal itu , di antaranya melakukan kerja sama dengan mitra-mitra LPS di luar negeri serta menandatangani MoU dengan mitra-mitra tersebut.

 

Source : Bisnis.com

Tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah suatu lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah perbankan di Indonesia. Badan ini dibentuk berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang ditetapkan pada 22 September 2004. Undang-undang ini mulai berlaku efektif 12 bulan sejak diundangkan sehingga pendirian dan operasional LPS dimulai pada 22 September 2005.

Setiap bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Republik Indonesia wajib menjadi peserta penjaminan LPS.

separator

separator