divider

News

separator

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2014 “Living with Schizophrenia”


Orang dengan Skizofrenia dapat Hidup Produktif Melalui Terapi yang Tepat

Jakarta, 9 September 2014 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Komunitas Peduli Skizofrenia (KPSI), dan Johnson & Johnson Indonesia sebagai wakil pihak swasta yang aktif mendukung program kesehatan jiwa menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukatif untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada tanggal 10 Oktober. Tahun ini HKJS mengangkat tema “Living with Schizophrenia” yang bertujuan untuk meningkatkan awareness pentingnya terapi dini yang tepat bagi orang dengan Skizofrenia (ODS) serta mengajak masyarakat dunia memberikan dukungan dan menerima ODS kembali aktif dan produktif di tengah masyarakat.
Gejala psikotik awal Skizofrenia dapat menyebabkan ODS kesulitan berinteraksi serta menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar. Hal ini tentunya akan mengganggu produktivitas dan kapasitas bekerja serta bersosialisasi di masyarakat
Dr. A. A. Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ(K), Ketua Seksi Skizofrenia PDSKJI, mengatakan, “Skizofrenia merupakan suatu penyakit jiwa berat dan seringkali berlangsung kronis dengan gejala utama berupa gangguan proses pikir sehingga pembicaraan sulit dimengerti, isi pikir yang tidak sesuai realita (delusi / waham), disertai gangguan persepsi panca indera yaitu halusinasi, dan disertai tingkah laku yang aneh, seperti berbicara atau tertawa sendiri. Gangguan jiwa ini kerap muncul di usia produktif yaitu 15-25 tahun, sehingga perlu mengenali gejala serta terapi sedini mungkin, agar dapat meningkatkan probabilitas pemulihan sempurna (recovery). Konsep recovery saat ini masih dianggap terlalu jauh, padahal sangat diperlukan untuk kehidupan ODS dalam jangka panjang. Prevalensi skizofrenia di Indonesia diprediksi akan bertambah dan jika ODS tidak mencapai recovery maka akan sangat membebani penderita, keluarga dan masyarakat, karena menunda waktu mereka untuk kembali produktif di masyarakat.”

Penanganan masalah kejiwaan adalah intervensi berbagai pihak baik dari asosiasi profesi, masyarakat, hingga pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. Beberapa kebijakan pemerintah yang diimplementasikan dalam memudahkan akses pelayanan kesehatan jiwa antara lain dengan menyertakan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pendekatan yang bersifat lintas sektor melalui Tim Pembina, Pengarah, Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) yang keanggotaannya terdiri dari tingkat pemerintahan mulai dari pusat, propinsi, hingga kabupaten atau kota.

Dr. Eka Viora, Sp.KJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mengatakan, “Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi gangguan jiwa berat (termasuk Skizofrenia) mencapai 1,7 permil atau 1-2 orang dari 1.000 warga di Indonesia mengalami gangguan kejiwaan berat. Dari jumlah tersebut, sebagian besar belum berinisiatif atau berkesempatan mendapatkan pengobatan yang tepat sehingga mengakibatkan kondisi ODS yang masih sulit diterima kembali di masyarakat. Oleh karena itu, selain upaya pengadaan obat-obatan yang lebih menyeluruh ke daerah-daerah pelosok, belum lama ini telah disahkan Undang Undang Kesehatan Jiwa yang berisikan bahwa orang dengan gangguan jiwa berhak diperlakukan manusiawi dan tanpa pasung. Dengan UU Kesehatan Jiwa ini, diharapkan penanganan gangguan kejiwaan terutama Skizofrenia lebih komprehensif dan terintegrasi mulai dari edukasi, terapi dan dukungan psikologis bagi ODS agar dapat produktif kembali di masyarakat.”

Selain terapi intens dari tenaga kesehatan jiwa dan keinginan untuk sembuh yang kuat dari ODS, keluarga juga menjadi elemen penting yang dapat menentukan pemulihan ODS. Ratih Ibrahim, praktisi psikologi, mengatakan, “Dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam meningkatkan pemulihan dan produktivitas ODS di tengah komunitas mereka. Diagnosa gejala Skizofrenia sedari dini dari keluarga merupakan aspek penting bagi ODS untuk mendapatkan terapi sebaik mungkin, termasuk pengawasan akan kepatuhan dalam mengonsumsi obat. Dengan demikian, mereka tidak akan kehilangan anggota keluarga dan tetap menjadi keluarga seutuhnya.”

Bagus Utomo, Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), mengutarakan, “Komitmen dari pemerintah dan asosiasi profesi dalam meningkatkan kualitas hidup ODS pasca terapi memberikan dorongan kepada komunitas untuk semakin aktif mendampingi baik ODS maupun keluarga mereka. Kami menyampaikan apresiasi setinggi mungkin atas upaya berbagai pihak untuk memfasilitasi kami dalam mengedukasi ODS dan keluarga mereka melalui Lighting The Hope for Schizophrenia. Kampanye ini diperkenalkan sejak tahun lalu dan merupakan wujud kolaborasi Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) dan Asosiasi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Indonesia (ARSAWAKOI) yang secara kontinu mensosialisasikan pemahaman tentang Skizofrenia.”

Vishnu Kalra, Managing Director Johnson & Johnson Indonesia, mengatakan, “Sebagai perusahaan berbasis kesehatan terkemuka di dunia, Johnson & Johnson memiliki tujuan membantu masyarakat menjalani hidup sehat baik fisik maupun mental. Saat ini masyarakat memiliki perspektif berbeda mengenai gangguan kejiwaan, bahwa penderita gangguan jiwa tidak mungkin disembuhkan, padahal peluang ODS pulih sangat tinggi melalui terapi dini yang tepat. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk mengedukasi dan mengubah perspektif masyarakat lebih positif terhadap ODS, bersama dengan pihak-pihak yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan jiwa terutama Skizofrenia.”

Rangkaian kegiatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia selama Bulan Oktober 2014 meliputi Penghargaan bagi Tenaga Kesehatan Jiwa se-Indonesia yang diadakan di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, seminar popular di @america – Pacific Place Mall yang menghadirkan pembicara Prof. Byron J. Good, PhD dari Harvard University, mobile clinic selama Car Free Day, aksi kampanye ‘Lighting the Hope for Schizophrenia’ di Bundaran Hotel Indonesia, kampanye publik oleh KPSI, dan konsultasi kesehatan jiwa gratis di beberapa Rumah Sakit terpilih.

Tentang Lighting The Hope for Schizophrenia

Sejak pertama kali diluncurkan sebagai kampanye nasional pada bulan Juli 2013 oleh tiga inisiator yaitu Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Asosiasi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Indonesia (ARSAWAKOI) dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), Kampanye Kesadaran Publik “Lighting the Hope for Schizophrenia” telah melakukan program-program berskala nasional yang ditargetkan pada kalangan medis, pembuat kebijakan dan komunitas, terutama melalui kegiatan-kegiatan yang melibatkan media massa. Dengan berbagai program yang selama ini telah dilakukan di sejumlah kota di Jawa dan Bali, kampanye ini telah mendapatkan dukungan penuh Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi situs resmi www.peduliskizofrenia.org.

 

Tentang Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI)

Komunitas yang didirikan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat di Indonesia mengenai penyakit kejiwaan dengan kegiatan antara lain informasi online, workshop, seminar edukasi, serta dukungan pada pasien dan keluarganya.

 

Tentang Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI)

Perhimpunan para dokter spesialis di bidang kejiwaan menjalani pendidikan berdasarkan ketentuan yang telah disahkan oleh Kolegium Ilmu Kedokteran Jiwa (Psikiatri) Indonesia dan telah mendapat rekomendasi (pengakuan) oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). Dokter   Spesialis Kedokteran Jiwa memberikan pelayanan kesehatan jiwa, melalui upaya promotif-preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara holistik, berbasis rumah sakit maupun komunitas.  Informasi lebih lanjut dapat dilihat di www.pdskji.org.

 

Tentang Asosiasi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dan Rumah Sakit Jiwa Ketergantungan Obat (RSKO) Indonesia (ARSAWAKOI)

Visi organisasi ini adalah mewujudkan masyarakat sehat jiwa dan terbebas dari gangguan penggunaan napza yang mandiri dan berkeadilan.  Beberapa tujuan utama organisasi ini antara lain meningkatkan mutu Rumah Sakit Jiwa dan RSKO di Indonesia dalam menjalankan tugasnya di bidang pelayanan kesehatan jiwa dan masalah lain terkait bagi masyarakat dan pengembangan pelayanan serta kemampuan bersaing secara sehat dalam era globalisasi. Saat ini telah terdapat 33 RSJ dan 17 RSKO berada di bawah naungan ARSAWAKOI. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di www. arsawakoi.org.

separator

separator