Index

divider

News

separator

Mengendalikan Kecemasan Untuk Hidup Lebih Berkualitas


Jakarta, 11 November 2015 – PT Pfizer Indonesia (Pfizer) kembali menyelenggarakan Pfizer Press Circle (PPC) dengan topik “Mengendalikan Kecemasan untuk Hidup Lebih Berkualitas”. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa sekitar 16 juta orang atau 6% dari populasi penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional seperti cemas, depresi dan psikosomatik. Masalah gangguan kecemasan (Anxiety) merupakan salah satu gangguan mental emosional yang sering dianggap sebagai masalah biasa di dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketika masalah kecemasan ini berlangsung terus menerus dan mengganggu kehidupan pribadi dan sosial orang yang mengalaminya, maka diagnosis gangguan kecemasan mungkin sudah dialami oleh orang tersebut.

Pakar Kesehatan Jiwa yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Presiden ASEAN Federation for Psychiatry and Mental Health (AFPMH), dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ (K) mengatakan, “Gejala gangguan cemas banyak dialami oleh manusia jaman sekarang. Sadar maupun tidak banyak di antara kita yang mengalami masalah kecemasan. Lingkungan yang dinamis, gaya hidup kaum urban yang serba cepat, masalah pemanasan global adalah sebagian hal umum yang bisa memicu seseorang menjadi mengalami kecemasan. Hal ini belum ditambah dengan kondisi spesifik yang berkaitan dengan orang tersebut. Faktor genetik bawaan, kepribadian seseorang dan kondisi lingkungannya adalah hal-hal terkait munculnya gangguan jiwa pada seseorang termasuk masalah kecemasan.”

Lebih lanjut dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ (K) mengatakan, “Kecemasan merupakan suatu masalah yang berkaitan dengan timbulnya gejala-gejala sistem saraf otonom di dalam tubuh. Biasanya kecemasan itu ditandai dengan dua komponen gejala yaitu gejala fisik dan gejala psikologis. Untuk gejala fisik, biasanya ditimbulkan oleh tubuh seperti jantung berdebar, diare, pusing, berkeringat dingin, sesak napas, mual dan lain-lain. Untuk gejala psikologis, seperti perasaan khawatir, was-was, gugup atau ketakutan. Dalam praktek sehari-hari, beberapa diagnosis gangguan cemas yang sering ditemukan adalah gangguan cemas menyeluruh, gangguan cemas panik, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, fobia sosial dan fobia spesifik. ”

“Sebenarnya, tiap manusia mempunyai karakter dan memiliki berbagai mekanisme defence, dimana akan membentuk pola yang bersangkutan dalam menghadapi kecemasan yang dialami. Jika karakter yang dimiliki positif dan mekanisme defence yang digunakan tepat, maka individu tersebut bisa menghadapi dan mengendalikan gangguan dengan baik, namun apabila terjadi kebalikannya maka bisa menimbulkan rasa kecemasan atau ketegangan yang terus – menerus,” tambah dr. Danardi.

dr. Andri, SpKJ, FAPM – Psikiater dari Klinik Psikosomatik Rumah Sakit OMNI Alam Sutera Tangerang juga mengatakan, “Beberapa gejala kecemasan terjadi pada pasien dengan diagnosis gangguan jiwa lainnya seperti Gangguan Depresi. Perlu untuk diperhatikan, gejala cemas pada depresi meningkatkan kemungkinanan bunuh diri, berkurangnya kemampuan fungsional di pekerjaan, respon yang kurang baik dari terapinya, adanya gejala-gejala fisik yang tidak bisa dijelaskan secara medis (psikosomatik), gejala yang lebih lama dan penggunaan biaya kesehatan untuk hal-hal lain daripada diagnosis utamanya. Oleh karena itu, jika kecemasan tidak ditangani dengan baik, maka dapat berakibat depresi atau gejala gangguan jiwa lainnya. Dengan pengendalian kecemasan yang baik, tingkat produktivitas seseorang pun dapat terjaga untuk hidup yang lebih berkualitas.”

Kasus-kasus gangguan jiwa seperti cemas dan depresi bisa disembuhkan. Namun, pasien seringkali menunggu terlalu lama untuk datang ke pelayanan kedokteran jiwa karena merasa malu atau karena keluhan dominannya adalah gejala fisik. Padahal dengan diagnosis yang tepat dan cepat, kualitas hidup pasien bisa diperbaiki. Lebih lanjut dr. Andri, SpKJ, FAPM mengatakan, “Terapi pada praktek psikiatri bisa dengan menggunakan obat atau psikofarmakologi dan dengan tanpa obat atau dengan cara psikoterapi. Kombinasi dari terapi psikofarmakologi dan psikoterapi dapat diterapkan bersamaan kepada pasien yang mengalami masalah gangguan jiwa.”

“Untuk terapi secara psikofarmakologi dalam pengobatan gangguan cemas dapat menggunakan obat antidepresan golongan SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitor) dan golongan benzodiazepin seperti Alprazolam. Penggunaan obat antidepresan dari golongan serotonin seperti Sertraline, Fluoxetine, Escitalopram atau golongan serotonin-norepinefrin seperti venlafaxine dan duloxetine merupakan pilihan obat untuk terapi gangguan cemas yang saat ini menjadi terapi lini pertama bagi pasien gangguan cemas karena dapat bekerja dengan cepat setelah dikonsumsi. Namun, perlu diperhatikan bahwa obat-obatan golongan tersebut harus dibawah pengawasan dokter ahli untuk mendapatkan dosis dan pengobatan yang tepat. Selain dengan terapi menggunakan obat tentunya beberapa terapi psikoterapi seperti terapi kognitif dan perilaku secara ilmiah terbukti juga dapat membantu mengatasi masalah gangguan cemas dan depresi, seperti relaksasi, meditasi, bertemu dengan teman-teman, olahraga dan lin sebagainya,” jelas dr. Andri.

Widyaretna Buenastuti, Public Affairs & Communication Director PT Pfizer Indonesia menambahkan, “Melalui visi untuk memimpin melalui inovasi untuk Indonesia yang lebih sehat, Pfizer berkomitmen menjalankan segala kegiatan dan operasionalnya demi masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Untuk itu, Pfizer ikut mendukung pendekatan preventif dan promotif dalam peningkatan kesehatan jiwa masyarakat, salah satunya dengan mengambil topik gangguan kecemasan dalam Pfizer Press Circle. Menghadirkan pakar kesehatan jiwa dan berdiskusi ‘cara mengendalikan kecemasan’ bisa memberikan wacana pendekatan preventif untuk gangguan kecemasan yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari, sehingga masyarakat menjadi lebih teredukasi tentang gejala-gejala kecemasan yang berlebihan dan penanganannya yang tepat untuk hidup yang lebih berkualitas.”

Tentang Pfizer
Di Pfizer, kami mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan sumber daya global untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan di setiap tahap kehidupan. Kami berjuang untuk menetapkan standar untuk kualitas, keamanan dan nilai dalam pengembangan, penemuan dan pembuatan produk-produk kesehatan. Portofolio global kami, termasuk obat-obatan dan vaksin, serta masih banyak lagi produk perawatan kesehatan lainnya yang sudah terkenal di dunia. Setiap hari, para kolega Pfizer bekerja di negara maju dan berkembang untuk memajukan kesehatan, pencegahan, perawatan dan pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit yang paling ditakuti di masa kini. Sejalan dengan tanggung jawab kami sebagai salah satu perusahaan biofarmasi inovatif terkemuka di dunia, kami juga bekerja sama dengan para penyedia layanan kesehatan, pemerintah dan komunitas lokal untuk mendukung dan memperluas akses ke perawatan kesehatan yang handal dan terjangkau di seluruh dunia. Selama lebih dari 150 tahun, Pfizer telah bekerja untuk membuat perbedaan bagi semua orang yang mengandalkan kami.

Di Indonesia, Pfizer didirikan pada tahun 1969, dan telah menjalankan operasional pabrik dan pemasaran sejak 1971. Dimulai dengan hanya 11 pegawai, sekarang setelah penyatuan dengan beberapa perusahaan, kini jumlah pegawai mencapai hampir 800 orang. Untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai komitmen kami, silahkan kunjungi kami di www.pfizerpeduli.com.

separator

separator