Index

divider

News

separator

Amartha Tawarkan Peluang Investasi P2P Micro Lending Yang Aman Dan Menguntungkan


Jakarta, 14 Desember 2017 – Perkembangan layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) begitu pesat, baik secara global, regional, hingga nasional. Industri fintech memiliki peluang untuk membawa perubahan ke dalam keseluruhan industri keuangan global termasuk di Indonesia. Salah satu pilihan produk investasi yang sedang berkembang pesat saat ini adalah investasi dengan konsep Peer-To-Peer (P2P) micro lending. PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) adalah pelopor platform P2P micro lending di Indonesia yang hadir dengan konsep investasi yang unik, aman, dan menguntungkan. Berdiri sejak tahun 2010 sebagai lembaga keuangan mikro dan bertransformasi menjadi perusahaan P2P di tahun 2016, Amartha menawarkan peluang bagi investor yang ingin memberikan akses permodalan, untuk terhubung dengan pengusaha mikro di pedesaan yang membutuhkan pendanaan.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, “Sejak pertama berdirinya, Amartha terus berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked, dengan para investor yang ingin menambah aset investasi di sektor yang lebih menguntungkan dan tentunya bernilai sosial. Keunikan lain terletak pada pengusaha mikro atau Mitra Amartha, yang seluruhnya adalah perempuan. Kini, lebih dari 70.000 perempuan pelaku usaha mikro di pelosok Indonesia telah menikmati layanan kami, dengan total dana yang didistribusikan lebih dari 200 Miliar Rupiah (US$ 15 Juta).”

Lebih lanjut Taufan mengatakan, “Selama 7 tahun berdiri, Amartha berhasil mempertahankan tingkat gagal bayar yang sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh salah satu manajemen risiko yang juga unik, yaitu dengan menerapkan group lending system (pinjaman kelompok) yang memiliki mekanisme tanggung renteng, dimana setiap peminjam akan dikelompokkan ke dalam satu kumpulan yang disebut Majelis. Kelompok ini terdiri dari 15 – 25 orang peminjam yang tinggal berdekatan. Dengan sistem ini, setiap anggota bertanggung jawab untuk melakukan tanggung renteng atau menanggung risiko secara kelompok, apabila salah satu anggota mengalami kredit macet.”

Perkembangan industri P2P micro lending memang diprediksi akan terus tumbuh sejalan dengan potensi pasar yang masih besar. Berdasarkan data dari lembaga riset Morgan Stanley, dana yang beredar di P2P micro lending global akan meningkat signifikan, bahwa diperkirakan pada tahun 2020 nanti dana yang dihimpun akan mencapai US$150-490 miliar.[1] Selain itu, data laporan PwC Global Fintech 2017 menunjukkan sebanyak 82% atau mayoritas perusahaan jasa keuangan seperti bank dan asuransi berencana untuk meningkatkan kemitraan dengan fintech dalam 3-5 tahun mendatang.[2] Pertumbuhan dan potensi pasar ini menunjukkan bahwa P2P micro lending hadir sebagai jenis aset investasi baru yang aman dan dapat dipercaya.

Untuk diketahui secara global, fintech dengan skema P2P micro lending bukanlah hal yang baru di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok. Berdasarkan data Accenture, investasi keseluruhan pada bidang fintech mulai meningkat dengan nilai mencapai 3 kali lipat, dari US$ 928 juta menjadi US$ 2,97 miliar dalam kurun waktu 2008 hingga 2013, dan diprediksi akan semakin meningkat di tahun 2018[3]. Data Statista juga menunjukkan, nilai transaksi perusahaan fintech di Indonesia sepanjang tahun 2017 ini diprediksi akan tumbuh 27,5 persen menjadi US$ 18,65 miliar, dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$ 14,5 miliar.[4] Terus tumbuhnya pasar industri fintech termasuk P2P micro lending yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, perlu menjadi perhatian. Apalagi, skema investasi P2P micro lending terbukti membantu masyarakat dalam hal permodalan bisnis. Sehingga pada akhirnya, berinvestasi pada produk P2P micro lending  berarti juga mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara lebih merata.

Anggota Dewan Komisaris Amartha dan juga Managing Partner Lynx Asia Partners, Djamal Attamimi mengatakan,Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mayoritas sebesar 49 juta UMKM dinilai masih unbanked dan membutuhkan akses permodalan. Melalui layanan fintech P2P micro lending inilah, para pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang unbanked bisa mendapatkan akses keuangan berupa pinjaman dari investor. Jadi, jelas layanan ini juga membuka kesempatan bagi kita untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Inilah mengapa, perusahaan P2P micro lending seperti Amartha terlihat begitu menarik. Apalagi dengan pengalaman Amartha di dunia keuangan dan keunikan mereka dalam mengelola dan mengembangkan bisnis di level bawah. Amartha sungguh dapat menjadi jenis aset (asset class) investasi baru yang potensial.”

Lebih lanjut Djamal mengatakan, “Selain menawarkan profit yang menarik, lebih tinggi dari layanan konvensional lain yang sudah ada, Amartha juga mengupayakan agar para investor dapat merasakan transparansi dalam berinvestasi. Amartha mengembangkan sistem skor kredit berdasarkan pendekatan psikometri untuk menilai kelayakan calon peminjam dan mengetahui riwayat pinjaman mereka. Skor kredit ini dapat dilihat oleh Investor, sehingga mereka dapat memilih secara langsung calon peminjam yang akan didanai sesuai profil usaha dan mempertimbangkan risiko yang diambil. Selain itu, informasi angsuran juga dapat dipantau secara online dan imbal hasil yang tersedia bisa ditarik dengan mudah. ”

Di Indonesia, fintech juga telah disambut baik oleh pemerintah dan regulator. Otoritas Jasa Keuangan hingga Bank Indonesia juga telah berkolaborasi untuk mendorong pertumbuhan dan mengawasi industri ini, serta lebih dini dalam memitigasi risiko. Untuk itu, OJK telah menerbitkan Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi atau Peer-to-Peer (P2P) Lending, yang akan disusul dengan ketentuan lain terkait fintech agar regulasi semakin jelas dan lengkap. “Pada tahun 2017 Amartha telah resmi terdaftar dan diawasi oleh Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, Amartha juga telah bekerjasama dengan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) dan memberikan perlindungan asuransi jiwa untuk mitra yang meninggal dunia, sehingga diharapkan mampu meningkatkan rasa aman, bagi para investor maupun mitra Amartha sebagai pengguna platform ini,” tutup Andi Taufan.

[1]              Morgan Stanley Research.  2015. Global Marketplace Lending: Disruptive Innovation in Financials. https://www.morganstanley.com/ideas/p2p-marketplace-lending

[2]              PwC Global Fintech Report 2017. Redrawing the lines: FinTech’s growing influence on Financial Services.

[3] Accenture and Partnership Fund for New York City.  Fintech Innovation Lab.  https://goo.gl/iZhu37

[4] Statista. Outlook Report : FinTech Market. https://www.statista.com/outlook/295/120/fintech/indonesia#market-revenue

 

Tentang PT Amartha Mikro Fintek (Amartha)

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) didirikan oleh Andi Taufan Garuda Putra pada bulan April 2010 sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dengan misi menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapat modal usaha. Pada tahun 2015, Amartha secara resmi bertransformasi menjadi perusahaan teknologi finansial (FinTech) dengan layanan peer to peer (P2P) lending marketplace untuk menghubungkan langsung pengusaha mikro (UKM) dengan pemodal (investor) secara online. Transformasi tersebut memungkinkan individu atau kelompok berinvestasi untuk UKM yang mencari pinjaman. Berbasis teknologi peer-to-peer (P2P), kini investor lebih nyaman dalam memilih mitra usaha yang memerlukan pembiayaan, berdasarkan profil risiko dan imbal hasil yang diinginkan.

Amartha telah berhasil menekan risiko gagal bayar (NPL) hingga 0% selama 7 tahun terakhir, dengan total dana tersalurkan lebih dari Rp 200 miliar kepada lebih dari 70.000 mitra perempuan di pedesaan. Risiko terukur, investasi dengan impact sosial yang menguntungkan. Amartha percaya dengan terus memudahkan akses permodalan untuk usaha mikro dan kecil akan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat piramida bawah, membangun ketahanan ekonomi, dan mewujudkan keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Amartha telah beberapa kali mendapatkan penghargaan, diantaranya : Sankalp Southeast Asia Award 2017 di pagelaran Sankalp Southeast Asia Summit, START UP Award 2017 dari Kadin DKI Jakarta, dan Republika Syariah Award. Untuk informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website www.amartha.com

separator

separator