divider

News

separator

Waspadai Faktor Risiko Penyakit Stroke Dengan Mengendalikan Kadar Kolesterol LDL Dalam Darah


Jakarta, 1 Maret 2016. Data Global Status Report on Noncommunicable Diseases World Health Oganization (WHO) 2014 menunjukkan penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi untuk penyakit tidak menular. Secara epidemiologi, data menunjukkan bahwa terdapat 17,5 juta orang yang meninggal karena penyakit kardiovaskular dan 6,7 juta orang diantaranya meninggal akibat stroke. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia. Dari data RISKESDAS 2013 juga menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi stroke di Indonesia, dari 8,3 per 1000 penduduk (per mil) pada 2007, menjadi 12,1 per 1000 penduduk pada 2013. Kejadian penyakit stroke yang terus meningkat ini, salah satu penyebabnya karena masyarakat masih kerap mengabaikan pengendalian tingkat kadar kolesterol sebagai faktor risiko yang mendominasi kejadian stroke.

Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa faktor utama stroke adalah disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi. Padahal, kolesterol merupakan faktor risiko stroke yang secara konsisten dilaporkan dari berbagai hasil penelitian. dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K)., KIC., MARS, Spesialis Saraf dan Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) mengatakan, “Kolesterol selalu dikaitkan sebagai salah satu penyebab utama penyakit jantung. Namun, perlu diingat bahwa Kolesterol jenis Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyebab Stroke.” Lebih lanjut dr. Mursyid Bustami menjelaskan, “Stroke merupakan penyakit neurologi yang utama yang merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Stroke terjadi akibat sumbatan pembuluh darah atau pendarahan di otak. Tingginya kadar LDL dalam darah dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis, suatu keadaan dimana pembuluh darah menyempit, sehingga mengakibatkan terganggunya aliran darah ke otak. Jika hal ini tidak ditangani dengan baik maka dapat timbul stroke.

dr. Mursyid Bustami menambahkan, “Penyakit Stroke dapat terjadi karena seseorang individu yang sehat memiliki faktor risiko stroke. Pengendalian kadar kolesterol LDL dapat dicapai dengan perubahan pola hidup dan terapi obat. Perubahan pola hidup sehat yang dianjurkan meliputi penurunan berat badan, banyak makan serat, konsumsi buah dan sayuran, berhenti merokok, olah raga, dan pembatasan konsumsi lemak berlebih. Pengendalian faktor risiko stroke perlu diperhatikan untuk menurunkan risiko seseorang untuk terkena stroke. Karena jika sudah terkena stroke maka akan membutuhkan perawatan dan pengobatan bertahap seumur hidup, sehingga dapat dibayangkan betapa besar biaya yang harus ditanggung oleh pasien, keluarga, maupun negara. Hanya saja melalui tindakan pengendalian yang baik, beban ekonomi tersebut dapat dikurangi, bahkan mungkin dapat dihindarkan.” Lebih lanjut dr. Mursyid Bustami menghimbau, “Jangan tunggu sampai terjadi serangan stroke, lebih baik melakukan deteksi dini akan faktor risiko stroke untuk menghindari stroke. Memeriksakan diri ke dokter untuk mendeteksi adanya faktor-faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan.”

“Bila target penurunan kolesterol darah belum juga tercapai dengan upaya pola hidup sehat, pasien dapat berkonsultasi ke dokter untuk memperoleh terapi obat. Terapi obat yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kolesterol adalah golongan obat statin. Statin sendiri merupakan golongan obat yang bila digunakan bersamaan dengan pola hidup sehat dan olahraga akan membantu menurunkan kolesterol “jahat” LDL seseorang. Golongan obat ini meliputi: atorvastatin, rosuvastatin, simvastatin, fluvastatin, pitavastatin, pravastatin dan lovastatin,” imbuh dr. Mursyid Bustami.

Pada beberapa studi klinis, seperti studi CARDS, penggunaan obat golongan statin (dalam studi ini digunakan Atorvastatin 10mg) dapat menurunkan kejadian kardiovaskular mayor sebesar 37% dan menurunkan risiko stroke sebesar 48% pada pasien diabetes tanpa riwayat penyakit jantung koroner dengan minimal 1 faktor risiko kardiovaskular lainya . Statin terbukti efektif dalam pencegahan primer dan sekunder kelainan kardiovaskular dan stroke seperti direkomendasikan oleh beberapa guideline international terkini, yakni ACC/AHA 2013, ASA 2014, NICE 2014, ADA 2015,

Golongan statin juga memiliki manfaat dan efek samping, tetapi dapat dikatakan bahwa sejauh ini manfaat dari statin dalam mencegah penyakit stroke secara jelas telah terbukti dan tidak perlu diragukan lagi. Adanya isu mengenai efek samping statin yang beredar seperti dapat menimbulkan memory loss atau penurunan kemampuan kognitif membuat pasien takut untuk mengkonsumsi statin. Dasar anggapan bahwa statin dapat menyebabkan short-term memory loss atau hilang ingatan jangka pendek adalah karena otak merupakan organ yang paling banyak membutuhkan kolesterol. Namun, pada beberapa penelitian meta-analisis terbaru, salah satunya penelitian yang dilakukan Swiger et al pada 2013 yang telah di publikasikan dalam jurnal yang berjudul “Statins and Cognition: A Systematic Review and Meta-analysis of Short- and Long-term Cognitive Effects” menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan golongan obat statin dengan terjadinya memory loss.

“Perlu juga untuk diketahui bahwa kolesterol LDL tinggi tidak hanya menjadi faktor risiko stroke atau penyakit kardiovaskular lainnya, namun juga termasuk faktor risiko penyakit Alzheimer Dementia (AD) yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif secara berangsur-angsur. Dengan demikian, pengendalian kadar kolesterol LDL dengan terapi obat golongan statin, justru dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer Dementia (AD). Hingga saat ini belum ada studi penelitian yang dapat membuktikan berkurangnya lemak di massa otak menyebabkan memory loss” tambah dr. Mursyid.

dr. Mursyid menyimpulkan, “Setiap obat pada dasarnya, mempunyai potensi menimbulkan efek samping, karenanya harus diperhatikan keseimbangan antara manfaat yang diperoleh dengan risiko yang mungkin terjadi, sejauh memberikan manfaat dan potensi efek sampingnya kecil maka obat tersebut tidak perlu ditolak, karena memang pada dasarnya setiap obat memiliki potensi efek samping”. Lebih lanjut dr. Mursyid menyampaikan,” Golongan statin juga memiliki manfaat dan efek samping, tetapi dapat dikatakan bahwa sejauh ini manfaat dari statin dalam mencegah penyakit stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya secara jelas telah terbukti dan tidak perlu diragukan lagi, namun penggunaannya tentu harus benar dan memperhatikan potensi efek sampingnya.”

Widyaretna Buenastuti, Public Affairs & Communication Director PT Pfizer Indonesia juga menambahkan, “Pfizer mempunyai visi untuk memimpin melalui inovasi untuk Indonesia yang lebih sehat. Atas visi tersebutlah, Pfizer berkomitmen menjalankan segala kegiatan dan operasionalnya demi masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Journalist Class yang dinamakan Pfizer Press Circle (PPC) rutin dilakukan Pfizer dengan tujuan untuk berbagi informasi mengenai perkembangan dan penemuan-penemuan terbaru di dunia farmasi dan kesehatan. Kali ini, Pfizer membagikan informasi dengan menghadirkan pakar kesehatan dan berdiskusi mengenai pentingnya pengendalian kadar kolesterol LDL dalam darah untuk mengurangi faktor risiko penyakit stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya serta penggunaan obat golongan statin sebagai obat pilihan untuk menurunkan kolesterol LDL yang secara klinis dapat mengurangi risiko penyakit stroke dengan potensi efek samping yang kecil.”

Tentang Pfizer

Di Pfizer, kami mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan sumber daya global untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan di setiap tahap kehidupan. Kami berjuang untuk menetapkan standar untuk kualitas, keamanan dan nilai dalam pengembangan, penemuan dan pembuatan produk-produk kesehatan. Portofolio global kami, termasuk obat-obatan dan vaksin, serta masih banyak lagi produk perawatan kesehatan lainnya yang sudah terkenal di dunia. Setiap hari, para kolega Pfizer bekerja di negara maju dan berkembang untuk memajukan kesehatan, pencegahan, perawatan dan pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit yang paling ditakuti di masa kini. Sejalan dengan tanggung jawab kami sebagai salah satu perusahaan biofarmasi inovatif terkemuka di dunia, kami juga bekerja sama dengan para penyedia layanan kesehatan, pemerintah dan komunitas lokal untuk mendukung dan memperluas akses ke perawatan kesehatan yang handal dan terjangkau di seluruh dunia. Selama lebih dari 150 tahun, Pfizer telah bekerja untuk membuat perbedaan bagi semua orang yang mengandalkan kami. Di Indonesia, Pfizer didirikan pada tahun 1969, dan telah menjalankan operasional pabrik dan pemasaran sejak 1971. Dimulai dengan hanya 11 pegawai, sekarang setelah penyatuan dengan beberapa perusahaan, kini jumlah pegawai mencapai hampir 800 orang. Untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai komitmen kami, silahkan kunjungi kami di www.pfizerpeduli.com.

separator

separator